
Seorang pakar keuangan asal Amerika, David Back mewanti-wanti kepada anak muda jaman sekarang agar tidak terlalu banyak mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak penting. Secara khusus, Back menyebut gaya hidup ini dengan istilah Latte Factor.
Apa itu Latte Factor? Awalnya istilah ini digunakan untuk merujuk kepada gaya hidup anak muda yang senang nongkrong di kafe sambil menyeruput kopi. Namun belakangan istilah ini berkembang dengan merujuk kepada pengeluaran kecil, namun berdampak besar bagi perencanaan keuangan.
Misalnya, kamu yang suka membeli camilan, memesan makanan ringan lewat aplikasi dengan tambahan ongkos kirim, mentransfer uang antar bank yang bikin kamu dikenai biaya transfer, membeli air minum kemasan padahal bisa membawa bekal sendiri dari rumah, dan lainnya.
Pengeluaran tersebut memang terbilang kecil, namun akan jadi masalah besar jika semua itu dilakukan secara rutin, bahkan jadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.
Lebih lanjut lagi, Back menjelaskan jika pengeluaran kecil tersebut merupakan salah satu faktor yang menyebabkan generasi millenial kehilangan sebagian besar pendapatan mereka. Ironisnya, hal ini jarang disadari sehingga tidak masuk dalam evaluasi rencana keuangan mereka.
Bagaimana Cara Menangkalnya?
Tuntutan gaya hidup konsumtif, keinginan untuk eksis di dunia maya, dan faktor influencer merupakan salah satu penyebab terbesar kenapa Latte Factor bisa dengan mudah muncul dan jadi trend di kalangan generasi millenial, terutama bagi mereka pecandu sosial media.
Nggak percaya, coba saja kamu perhatikan orang-orang yang sedang nongkrong di kafe. Sambil menunggu pesanan, mereka akan mencari spot foto menarik dan langsung dipamerkan di sosial media. Hal yang sama mereka lakukan saat pesanan sampai di meja.
Maka dari itu, hal pertama yang harus dilakukan untuk menangkalnya adalah, dengan mengembalikan kepada pola belanja sesuai dengan kebutuhan, bukan hanya sekedar keinginan. Selain itu, berikut merupakan beberapa langkah yang bisa kamu lakukan untuk menangkal Latte Factor.
Jika dibutuhkan, kamu bisa menghentikan aktivitas di sosial media. Pasalnya, Latte Factor terbentuk dari kebiasaan bermain sosial media, dan tergoda untuk mengikuti gaya hidup para influencer yang memang dibayar untuk ‘menggiring’ kamu jadi lebih konsumtif.
Perlu dicatat, menghindari Latte Factor bukan berarti menghalangi kamu untuk bersenang-senang. Namun harus dikendalikan agar tidak jadi bencana keuangan di masa depan.