.jpg)
AdaKami.id - Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan finansial bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari membayar tagihan, menerima transfer, menjalankan usaha kecil, hingga mencari pembiayaan saat ada kebutuhan mendesak. Namun, tidak semua orang memiliki akses yang sama ke layanan keuangan formal. Sebagian masyarakat masih bergantung pada cara-cara informal karena belum memiliki rekening, belum familiar dengan layanan digital, atau belum memahami produk keuangan yang aman dan sesuai kebutuhan.
Di sinilah, inklusi keuangan menjadi penting. Inklusi keuangan bukan sekadar istilah ekonomi, tetapi berkaitan langsung dengan kesempatan masyarakat untuk mengakses layanan finansial yang lebih mudah, terjangkau, dan terlindungi. Dengan akses yang lebih terbuka, TemanKami bisa mendapatkan banyak pilihan dalam mengelola uang, melakukan transaksi, menabung, hingga menggunakan layanan pembiayaan secara lebih bijak dan terencana.
Menurut OJK, inklusi keuangan adalah ketersediaan akses bagi masyarakat untuk memanfaatkan produk dan/atau layanan jasa keuangan di lembaga keuangan formal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan.
Dalam kehidupan sehari-hari, inklusi keuangan bukan hanya soal memiliki rekening atau aplikasi keuangan. Lebih dari itu, menurut World Bank, inklusi keuangan mencakup akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan yang bermanfaat dan terjangkau, meliputi transaksi, pembayaran, tabungan, kredit, dan asuransi yang digunakan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Artinya, inklusi keuangan berarti TemanKami bisa menggunakan layanan finansial untuk kebutuhan nyata, seperti menyimpan uang dengan lebih aman, menerima pembayaran, membayar tagihan, melakukan transaksi digital, hingga mengakses pembiayaan saat dibutuhkan. Dengan akses yang tepat, masyarakat mendapatkan pilihan finansial yang lebih jelas dan tidak harus bergantung pada layanan informal yang berisiko.
Inklusi keuangan penting karena membantu lebih banyak masyarakat masuk ke dalam ekosistem layanan keuangan formal. Data menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan oleh OJK, indeks inklusi keuangan mencapai 88,7% pada tahun 2023 dan berada di angka 75,02% pada tahun 2024. Sementara itu, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 66,50% pada tahun 2020 dan mencapai 65,43% pada tahun 2024.
Dengan inklusi keuangan yang baik, TemanKami bisa lebih mudah mengelola uang, mencatat transaksi, menabung, membayar kebutuhan harian, hingga mengakses pembiayaan secara lebih terstruktur dan terlindungi. Di sisi lain, inklusi keuangan juga mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, terutama bagi pelaku usaha kecil yang membutuhkan akses transaksi dan modal untuk menjaga serta mengembangkan usahanya.
Bentuk inklusi keuangan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti akses ke tabungan atau rekening. Rekening menjadi pintu awal untuk menyimpan uang, menerima pembayaran, dan mengatur transaksi dengan lebih aman dan tercatat.
Selain itu, pembayaran digital, akses pembiayaan, serta edukasi keuangan juga termasuk bagian dari inklusi keuangan. Artikel AFPI menjelaskan bahwa fintech lending dapat membantu UMKM yang belum memiliki akses ke layanan keuangan formal, terutama kelompok unbanked (belum memiliki akses ke layanan perbankan) dan underserved (akses layanan keuangannya masih terbatas) untuk memperoleh modal usaha secara lebih cepat dan mudah. Dengan dukungan pembiayaan yang lebih inklusif, pelaku UMKM memiliki kesempatan untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperluas pasar, serta berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Data OJK menunjukkan bahwa tantangan inklusi keuangan di Indonesia masih nyata. Berdasarkan SNLIK 2024 yang dilakukan OJK bersama BPS, indeks inklusi keuangan Indonesia tercatat sebesar 75,02%, masih jauh dari target pemerintah sebesar 90% yang ditetapkan dalam Perpres Nomor 114 Tahun 2020. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya dapat mengakses atau memanfaatkan layanan keuangan formal, termasuk karena belum memahami cara kerja, manfaat, biaya, risiko, dan ketentuan layanannya.
Selain itu, akses yang belum merata dan kekhawatiran terhadap keamanan juga masih menjadi hambatan. Risiko penipuan, biaya yang tidak dipahami, atau ketentuan yang tidak dibaca dengan teliti membuat sebagian masyarakat ragu menggunakan layanan keuangan digital.
Dengan akses ke layanan keuangan formal, TemanKami mendapatkan pilihan finansial yang lebih jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, mulai dari aturan yang transparan, informasi biaya yang terbuka, hingga ketersediaan kanal pengaduan resmi apabila dibutuhkan.
Bagi pelaku usaha kecil, inklusi keuangan juga dapat mendukung pertumbuhan usaha. Akses transaksi dan pembiayaan membantu pelaku usaha mengelola modal, menjaga operasional, dan mengembangkan bisnis secara bertahap.
Layanan keuangan digital membuat akses finansial menjadi lebih mudah karena masyarakat tidak harus selalu datang ke kantor fisik. Melalui teknologi, transaksi, informasi, dan pengajuan layanan bisa dilakukan lebih praktis sesuai kebutuhan harian.
Dalam konteks pembiayaan digital, AdaKami turut mendukung akses pembiayaan masyarakat. Pada kuartal I 2025, AdaKami mencatat penyaluran pembiayaan sebesar Rp3,94 triliun, menurut Antara News
Inklusi keuangan membuka akses terhadap layanan finansial yang lebih luas, terlindungi, dan bermanfaat. Dengan demikian,TemanKami dapat lebih mudah mengelola kebutuhan sehari-hari, memahami berbagai pilihan keuangan, dan mengambil keputusan finansial yang lebih bijak.
Oleh karena itu, penting bagi TemanKami untuk memilih layanan yang jelas, legal, transparan, dan mudah dipahami. Agar semakin paham dalam mengambil keputusan finansial, TemanKami juga bisa membaca artikel terkait di blog resmi AdaKami mengenai literasi keuangan dan layanan pinjaman daring yang berizin dan diawasi OJK.