AdaKami.id – TemanKami, masa awal kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditandai oleh semangat juang melawan penjajah, lho, tetapi juga oleh dinamika kepemimpinan yang terbagi antara golongan tua dan golongan muda. Dua kelompok ini memiliki visi dan pendekatan yang berbeda dalam memaknai dan menyikapi kemerdekaan. Golongan tua dikenal lebih berhati-hati, mengedepankan diplomasi, dan berpengalaman dalam pergerakan nasional. Sementara itu, golongan muda tampil lebih progresif, berani mengambil risiko, dan menginginkan perubahan yang cepat.
Meskipun begitu, perbedaan inilah yang justru memberikan warna tersendiri dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, terutama dalam proses penentuan langkah-langkah strategis di masa awal kemerdekaan. Bertepatan dengan Kemerdekaan Indonesia ke-80, mari kita rayakan dengan mempelajari perbedaan peran golongan tua dan muda pada masa transisi kemerdekaan. Simak artikel ini sampai selesai, yuk, TemanKami!
Golongan tua memandang kemerdekaan sebagai proses yang harus dilalui lewat jalur diplomasi dan legalitas formal. Mereka, seperti Soekarno dan Hatta, lebih memilih menunggu keputusan resmi dari badan bentukan Jepang, yaitu Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) (Ricklefs, 2008). Alasannya, mereka memandang kemerdekaan yang diproklamasikan seharusnya memiliki dasar hukum yang kuat dan tidak memancing konflik dengan pihak Jepang yang saat itu masih memiliki kekuatan militer di Indonesia (Kuntowijoyo, 2005).
Sementara itu, golongan muda melihat bahwa kemerdekaan harus direbut, bukan diberikan. Mereka menilai bahwa Jepang sudah kalah perang dan tidak lagi memiliki legitimasi untuk ikut campur dalam urusan Indonesia (Deliar Noer, 1999). Oleh karena itu, tokoh-tokoh seperti Sutan Sjahrir dan Wikana mendorong proklamasi segera dilaksanakan tanpa menunggu sidang PPKI (Notosusanto, 1978). Bagi mereka, terlalu banyak menunggu justru bisa membahayakan kesempatan emas untuk merdeka secara mandiri, TemanKami.
Tokoh-tokoh golongan tua cenderung menggunakan gaya komunikasi yang formal, tenang, dan diplomatis (Ricklefs, 2008). Mereka terbiasa berdiskusi dalam forum resmi dan menghargai struktur atau tingkat jabatan dalam organisasi. Kepemimpinan mereka juga lebih sentralistik, di mana keputusan besar biasanya berada di tangan tokoh utama, seperti Soekarno dan Hatta, dengan pertimbangan yang matang dan penuh perhitungan (Kuntowijoyo, 2005).
Sebaliknya, golongan muda cenderung lebih ekspresif dan lebih terang-terangan menyuarakan pendapatnya. Mereka tidak segan mengkritik tokoh tua, jika dianggap terlalu lambat dalam bertindak (Notosusanto, 1978). Gaya kepemimpinan mereka juga cenderung lebih menjunjung kebersamaan dan kesetaraan, di mana diskusi dilakukan secara terbuka dan penuh semangat. Mungkin TemanKami ingat pelajaran sejarah saat sekolah dulu, gaya kepemimpinan ini terlihat dalam keberanian mereka melakukan aksi, seperti menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok sebagai bentuk tekanan agar proklamasi segera dilakukan (Deliar Noer, 1999). Wah! Gaya kedua golongan ini terlihat sangat berbeda ya, TemanKami?
Perbedaan yang terakhir, terlihat dari strategi kedua golongan dalam memperjuangkan kemerdekaan, TemanKami. Golongan tua memilih strategi melalui jalur politik dan diplomasi. Harapannya, kemerdekaan Indonesia bisa mendapatkan pengakuan di tingkat internasional lebih mudah (Ricklefs, 2008). Mereka percaya bahwa kemerdekaan yang diraih dengan cara damai akan lebih berkelanjutan dan tidak menimbulkan konflik tambahan. Untuk itu, mereka juga berusaha menjaga hubungan baik dengan Jepang maupun sekutu yang akan datang ke Indonesia (Kuntowijoyo, 2005).
Di sisi lain, golongan muda lebih percaya pada kekuatan rakyat dan gerakan revolusioner. Bagi mereka, kemerdekaan adalah hasil perjuangan dan tekanan politik dari bawah (Notosusanto, 1978). Mereka tidak terlalu memikirkan pengakuan luar negeri pada tahap awal, tetapi fokus pada deklarasi kemerdekaan yang tegas dan secepat mungkin. Semangat inilah yang mendorong mereka untuk mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan sebelum sekutu datang kembali.
TemanKami, perbedaan gaya kepemimpinan ini mengajarkan kita bahwa tidak ada satu cara yang paling benar dalam memperjuangkan sesuatu yang besar. Golongan tua dengan pendekatan hati-hati dan golongan muda dengan semangat revolusionernya telah memberi kontribusi besar dalam sejarah bangsa. Apabila hanya mengandalkan satu gaya kepemimpinan dari satu golongan saja, mungkin hasilnya tidak akan seimbang seperti yang kita nikmati hari ini.
Pada zaman sekarang, pelajaran ini tetap relevan, lho! Dalam menghadapi tantangan bangsa, perpaduan antara kebijaksanaan generasi berpengalaman dan semangat inovatif generasi muda tetap dibutuhkan. Kolaborasi lintas generasi, bukan kompetisi, adalah kunci kemajuan yang berkelanjutan. Jadi, yuk, rayakan kemerdekaan tahun ini dengan lebih terbuka atas segala gaya kepemimpinan dan mencoba menerapkannya dalam kehidupan sosial dan profesional kita!
Selain itu, kira-kira, aktivitas apa lagi yang akan kamu lakukan untuk merayakan kemerdekaan Indonesia tahun ini? Apabila kamu ingin merayakannya dengan mengadakan perlombaan 17-an, baca artikel AdaKami lainnya di sini, ya!